Pengalamanku

blogger templates

Catatan Praktek Kependidikan

di SMP Islam Sultan Agung I Semarang

Selama kurang lebih 1 bulan mahasiswa Tarbiyah FAI UNISSULA Semarang melaksanakan praktek kependidikan di SMP Islam Sultan Agung I Semarang. Banyak catatan yang menarik untuk dicermati dan direnungkan. Ada 31 mahasiswa yang praktek di sana, terdiri dari 12 laki-laki dan 19 perempuan.

Secara ekonomi, siswa yang sekolah di situ orang tuanya termasuk golongan menengah ke atas, secara kultur mereka termasuk masyarakat perkotaan yang serba lengkap fasilitasnya. Namun secara psikologis mereka tampak seperti anak-anak seumuran mereka, suka bermain, seenaknya sendiri, sulit diatur dan lain sebagainya.

Kesan pertama menginjakkan kaki di sekolah itu tampak sekali nuansa keislamannya, nuansa itu tampak sekali saat siswa-siswa tiba di sekolah dan saat mereka pulang sekolah. Saat mereka tiba di sekolah sekitar jam 6.30-6.45 tampak guru piket sudah stand by di pintu gerbang untuk menyalami murid satu per satu, Pak Satpam pun tak ketinggalan siap memeriksa siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah, misal memakai kaos kaki yang pendek. Ada dua pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini, yang pertama siswa diajari tentang kesopanan yaitu menyalami guru dengan mencium tangan gurunya, yang kedua tentang kedisiplinan yaitu dengan keuletan Satpam dan kesabarannya membiasakan siswa untuk berlaku disiplin dan taat pada peraturan. Setelah mereka masuk kelas, secara bersama-sama mereka membaca asmaul husna dan doa lainnya untuk memulai pelajaran. Lalu saat mereka pulang sekolah, sekitar jam 13.00, sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing, mereka shalat dhuhur berjama’ah di musholla, kloter pertama adalah siswa laki-laki dan kloter yang kedua adalah siswa perempuan. Secara tidak langsung mereka dididik untuk memupuk kebersamaan dengan shalat secara berjama’ah.

Hal yang menjadi kendala bagi hampir semua mahasiswa praktek kependidikan adalah dalam mengelola kelas dan menenangkan kelas yang tidak teratur. Siswa-siswa ketika diajar oleh mahasiswa PK cenderung ramai dan tidak bisa dikendalikan. Sebentar diam kemudian ramai lagi, bahkan ada yang berjalan-jalan kesana kemari tanpa memedulikan yang sedang mengajarnya, kesabaran dan talenta menangani siswa-siswa ini benar-benar diuji. Waktu mengajar banyak dihabiskan untuk menenangkan siswa dan mengelola kelas, sedangkan penyampaian materi kurang begitu berhasil, walaupun secara umum mahasiswa PK sudah bisa menguasai materi dengan baik. Berbagai metode dalam menyampaikan materi juga sangat bervariasi, namun tampaknya tidak berpengaruh pada siswa di kelas artinya mereka masih ramai dan sulit dikendalikan. Dan tidak jarang mahasiswa PK tetap menyampaikan materi walaupun suasana kelas kurang mendukung dengan konsekuensi mengencangkan volume suaranya sampai tingkat yang paling tinggi, ketika menghadapi situasi seperti ini sungguh hal yang menjengkelkan sekaligus mengenaskan karena dijamin setelah keluar dari kelas suaranya serak bahkan bisa habis.

Ternyata mengajar itu tidak mudah, itu kira-kira kesimpulan terkhirku dan teman-teman mahasiswa PK. Banyak sekali tantangan, akan menemui berbagai karakter siswa yang berbeda-beda, ada yang menyenangkan sekaligus ada yang sangat menjengkelkan, bahkan bikin emosi meninggi tapi harus mengeremnya. Seperti diakui oleh Ibu Kepala Sekolah sendiri saat menyampaikan sambutan penyerahan kembali mahasiswa PK ke Fakultas di warung makan wong jowo, beliau mengatakan, "bahwa anda sekalian sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya menangani siswa SMP itu, sudah sedikit punya pengalaman riil bagaimana realitas yang ada di lapangan, untuk menangani siswa-siswa seperti itu kita harus memberi kesan yang menarik dulu pada mereka terlebih dahulu misalnya seperti selebritis, kemudian dalam menyampaikan materi jangan hanya memakai metode ceramah saja karena metode ini hanya diperhatikan siswa maksimal 5 menit, setelah itu mereka tidak tertarik lagi, jadi perbanyaklah metode agar para siswa tidak jenuh dan dapat mengikuti pelajaran denga antusias. Kesimpulannya, keberhasilan seorang guru itu ditentukan dua hal, yaitu; 1) memberikan kesan, 2) penguasaan metode yang bervariasi."

Dengan berbagai kesulitan dan pengalaman yang mereka dapatkan selama praktek, ternyata terpancar kegembiraan dan kepuasan di wajahnya ketika waktu praktek akan segera berakhir. Rasa rindu pun saya yakin akan terbersit dalam hati mereka karena tidak lagi berada di sekolah itu. Kenakalan dan tingkah laku siswa-siswa yang menjengkelkan itu akan menjadi kenangan yang mengesankan sekaligus dirindukan. Kenakalan mereka tidak ada apa-apanya dibanding banyaknya pengalaman yang didapatkan peserta PK. Ah, ternyata benar dibalik kesusahan ada kemudahan, kita benar-benar akan merasakan kemudahan setelah mengalami kesulitan, karena tidak selamanya kesulitan itu akan terus menjadi kesulitan, sebaliknya hal yang kita anggap mudah tidak selamanya mudah.

Semarang, 2 September 2010.

0 Response to "Pengalamanku"