Esai

blogger templates

Ah! Teori

Menurut Montaigne, terlalu banyak orang menyimpan pengetahuan dan ilmu dalam kantongnya, tetapi hanya sedikit menyerap ke dalam hati dan lebih sedikit lagi yang menjadikannya bahagian kepribadiannya.

Memang patut disambut upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas para dosen. Dengan adanya UU Tentang Guru dan Dosen, untuk menjadi dosen harus menempuh sertifikasi mengajar dan juga memiliki jabatan fungsional minimal sebagai asisten ahli, ternyata bertambah sulit menuju kursi dosen. Namun bukan berarti setelah sesi-sesi itu telah dilalui, lalu urusan sudah selesai. Bukan berarti pula kemudian bisa menjadi sosok dosen ideal di mata mahasiswa.

Di mata mahasiswa, dosen sebagai insan pendidik menjadi panutan dan cermin keilmuan. Apapun yang dikatakan dan yang dilakukan akan membekas dalam dibenak mahasiswanya. Sehingga ketika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan maka sebagus apapun materi yang disampaikan tidak berarti apa-apa. Mahasiswa akan nyletuk, ah! teori dan emas tidak lebih berharga dari batu kerikil. Di sinilah kemudian kata-kata Montaigne mendapatkan tempatnya.

Tanggung jawab seorang dosen adalah merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Seorang dosen yang sudah memberikan pelayanan akademik yang baik kepada mahasiswa, bukan berarti kinerjanya sudah beres. Perlu juga dipertanyakan bagaimana penelitiannya, yang menunjukkan komitmen untuk mengembangkan keilmuannya. Dan juga bagaimana pengabdiannya kepada masyarakat, yang menunjukkan komitmennya memberi kemanfaatan untuk umat manusia. Maka untuk mengukur kinerja seorang dosen, tidak cukup hanya dalam dataran rutinitas kampus. Bukankah mengajar di ruang kuliah dan kertas kerja dosen baru salah satu aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, belum mencakup semuanya.

Dosen ideal masih sebuah mimpi. Tapi apa salahnya mimpi itu kemudian jadi kenyataan. Asalkan dosen itu tidak hanya berhenti pada formalitas aturan demi untuk mengejar gaji dan tunjangan lainnya. Tapi benar-benar berusaha untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai insan akademik. Syukur-syukur bisa mengambil pelajaran dari sindiran Montaigne di atas. Sehingga – sekali lagi – tidak dikatakan oleh mahasiswanya, ah! teori.

0 Response to "Esai"