Selasa, 11 Maret 2008 M/3 R.Awwal 1429 H
Menulis di media massa itu ternyata mudah. Tapi untuk bisa dimuat akan membutuhkan waktu serta kesabaran kita menunggu redaktur bersimpati dan membaca tulisan kita. Untuk menjajal peruntungan dalam dunia tulis-menulis khususnya di media massa, kita membutuhkan pengetahuan tentang lika-likunya. Saya akan berbagi dengan anda bagaimana melakukannya, bukankah pengetahuan itu untuk dibagi-bagikan? Saya mendapatkannya dari mengikuti "Pelatihan Esai is Easy" yang diselenggarakan oleh Bag. Kemahasiswaan Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, karena kebetulan saya kuliah di sana.
Nara sumbernya ada dua, yaitu dari pihak media massa (H. Amir Machmud, SH, MH, wakil pimpinan redaksi SUARA MERDEKA) dan dari penulis (Agus M. Irkham, penulis artikel, buku). Jadi, sumber ini merupakan perpaduan dua arah, satu sisi pengalaman redaktur dalam menerima tulisan, sisi yang lain pengalaman penulis dalam menulis dan mengirimkan tulisannya di media massa.
Dalam menulis, kiat berbahasa mempunyai peranan yang sangat penting, kunci dasarnya adalah agar gagasan kita bisa dikomunikasikan. Kan percuma, kalau kita menulis tapi pembaca tidak memahaminya. Pesan redaktur, "buatlah pembaca terlena oleh keindahan kita berbahasa". Karena bagaimanapun juga media massa itu identik dengan bahasa atau istilah lainnya "industri kalimat". Di samping itu, kredibilitas media atau penulis salah satunya tergantung pada kualitas bahasa. Jadi, kita dituntut untuk kreatif dalam memoles kemampuan bahasa menjadi kemasan yang menarik bagi pembaca.
Untuk mengasah kemampuan memoles bahasa, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, mengirim lewat proses biasa (facsimile, e-mail, pos). Langkah ini tentunya menuntut kesabaran yang tinggi untuk sebuah tulisan dapat dimuat, apalagi bagi penulis pemula.
Kedua, memperkenalkan diri, menanyakan tema aktual yang dibutuhkan redaksi. Tentunya kita harus berani berkunjung ke kantor redaktur, biasanya mereka akan lebih senang dan bersimpati dengan cara ini.
Ketiga, memahami proses seleksi berdasarkan aspek waktu, aktualitas, dan kompetensi. Dengan cara ini kita berusaha untuk menunjukkan kualitas tulisan kita. Jadi, kita harus mempertimbangkan apakah apa yang akan kita tulis tepat waktunya, aktual atau tidak, kita mempunyai kompetensi terhadap materi tulisan atau tidak.
Keempat, berkomunikasi soal progres penulisan, untuk tahu di mana kelebihan dan kekurangan kita. Maksudnya, kita sebisa mungkin dapat masukan atau tanggapan dari redaktur tentang tulisan yang kita kirimkan. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk koreksi tulisan kita selanjutnya.
Kelima, "pesan tempat" untuk tema-tema aktual atau sesuai dengan calendar of event. Langkah ini tentunya dapat dilakukan ketika kita sudah kenal redakturnya.
Menulis, menulis, dan menulis adalah salah satu kiat ampuh untuk menumbuhkan motivasi menulis. Menulis membutuhkan pembiasaan yang intens, karena kemampuan bahasa lisan dan tulisan berbeda. Orang yang biasa berpidato (orator) atau yang mahir menggunakan bahasa lisan belum tentu mahir menggunakan bahasa tulis. Dengan terus menulis (apa pun hasil tulisan kita), akan mengasah kemampuan bahasa tulis kita.
Biasanya bagi penulis pemula mempunyai problem ketika ia memulai membuat sebuah tulisan. Yaitu keterbatasan ide, sudah menulis beberapa kalimat atau paragraf tapi tidak bisa melanjutkannya, hal ini terjadi karena belum terbiasa menulis. Kiat untuk mengatasinya adalah kita menulis dengan hati bukan dengan pikiran, maksudnya saat menulis dengan penuh perasaan bukan dengan pertimbangan pikiran, apapun yang terlintas di hati kita tulis, setelah selesai baru kita menyeleksi (meng-edit) tulisan kita dengan pikiran (kaidah-kaidah bahasa).
Untuk mensiasati model atau karakter tulisan yang belum kita miliki, kita dapat menggunakan model-model atau gaya kepenulisan para penulis yang sudah mapan. Karena menurut pengalaman penulis (Agus M. Irfan) bahwa karakter atau gaya menulis kita akan diketemukan secara alami dalam proses kepenulisan yang kita jalani.
Pada akhirnya kegiatan tulis-menulis adalah untuk dinikmati dan sebagai rekreasi kita mencurahklan segala apa yang ada di pikiran dan hati kita.
Untuk kata penutup, alangkah baiknya kita merenungkan apa yang dikatakan oleh dramawan kita, WS. Rendra:
Selamat berjuang menjadi penulis!Nara sumbernya ada dua, yaitu dari pihak media massa (H. Amir Machmud, SH, MH, wakil pimpinan redaksi SUARA MERDEKA) dan dari penulis (Agus M. Irkham, penulis artikel, buku). Jadi, sumber ini merupakan perpaduan dua arah, satu sisi pengalaman redaktur dalam menerima tulisan, sisi yang lain pengalaman penulis dalam menulis dan mengirimkan tulisannya di media massa.
Dalam menulis, kiat berbahasa mempunyai peranan yang sangat penting, kunci dasarnya adalah agar gagasan kita bisa dikomunikasikan. Kan percuma, kalau kita menulis tapi pembaca tidak memahaminya. Pesan redaktur, "buatlah pembaca terlena oleh keindahan kita berbahasa". Karena bagaimanapun juga media massa itu identik dengan bahasa atau istilah lainnya "industri kalimat". Di samping itu, kredibilitas media atau penulis salah satunya tergantung pada kualitas bahasa. Jadi, kita dituntut untuk kreatif dalam memoles kemampuan bahasa menjadi kemasan yang menarik bagi pembaca.
Untuk mengasah kemampuan memoles bahasa, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
- Biasakan nekat (berani) untuk menuang gagasan (apa pun) ke dalam bahasa tulis;
- Hayati ilmu "rasa bahasa", kita rasakan benar-benar, kalimat kita "bunyi" atau tidak;
- Bayangkan diri kita sebagai pembaca;
- Biasakan berbahasa tulis dengan perfeksionitas detail. Maksudnya memperhatikan dengan teliti perpindahan huruf ke kata, kata ke kalimat, kalimat ke logika, logika ke substansi;
- Jangan membiarkan ketidakcermatan menjadi habit;
- Pelajari dan cermati kebiasaan para penulis dalam menyajikan gagasannya;
- Lama-lama akan muncul karakter berbahasa anda;
- Pada akhirnya berbahasa adalah seni.
Pertama, mengirim lewat proses biasa (facsimile, e-mail, pos). Langkah ini tentunya menuntut kesabaran yang tinggi untuk sebuah tulisan dapat dimuat, apalagi bagi penulis pemula.
Kedua, memperkenalkan diri, menanyakan tema aktual yang dibutuhkan redaksi. Tentunya kita harus berani berkunjung ke kantor redaktur, biasanya mereka akan lebih senang dan bersimpati dengan cara ini.
Ketiga, memahami proses seleksi berdasarkan aspek waktu, aktualitas, dan kompetensi. Dengan cara ini kita berusaha untuk menunjukkan kualitas tulisan kita. Jadi, kita harus mempertimbangkan apakah apa yang akan kita tulis tepat waktunya, aktual atau tidak, kita mempunyai kompetensi terhadap materi tulisan atau tidak.
Keempat, berkomunikasi soal progres penulisan, untuk tahu di mana kelebihan dan kekurangan kita. Maksudnya, kita sebisa mungkin dapat masukan atau tanggapan dari redaktur tentang tulisan yang kita kirimkan. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk koreksi tulisan kita selanjutnya.
Kelima, "pesan tempat" untuk tema-tema aktual atau sesuai dengan calendar of event. Langkah ini tentunya dapat dilakukan ketika kita sudah kenal redakturnya.
Menulis, menulis, dan menulis adalah salah satu kiat ampuh untuk menumbuhkan motivasi menulis. Menulis membutuhkan pembiasaan yang intens, karena kemampuan bahasa lisan dan tulisan berbeda. Orang yang biasa berpidato (orator) atau yang mahir menggunakan bahasa lisan belum tentu mahir menggunakan bahasa tulis. Dengan terus menulis (apa pun hasil tulisan kita), akan mengasah kemampuan bahasa tulis kita.
Biasanya bagi penulis pemula mempunyai problem ketika ia memulai membuat sebuah tulisan. Yaitu keterbatasan ide, sudah menulis beberapa kalimat atau paragraf tapi tidak bisa melanjutkannya, hal ini terjadi karena belum terbiasa menulis. Kiat untuk mengatasinya adalah kita menulis dengan hati bukan dengan pikiran, maksudnya saat menulis dengan penuh perasaan bukan dengan pertimbangan pikiran, apapun yang terlintas di hati kita tulis, setelah selesai baru kita menyeleksi (meng-edit) tulisan kita dengan pikiran (kaidah-kaidah bahasa).
Untuk mensiasati model atau karakter tulisan yang belum kita miliki, kita dapat menggunakan model-model atau gaya kepenulisan para penulis yang sudah mapan. Karena menurut pengalaman penulis (Agus M. Irfan) bahwa karakter atau gaya menulis kita akan diketemukan secara alami dalam proses kepenulisan yang kita jalani.
Pada akhirnya kegiatan tulis-menulis adalah untuk dinikmati dan sebagai rekreasi kita mencurahklan segala apa yang ada di pikiran dan hati kita.
Untuk kata penutup, alangkah baiknya kita merenungkan apa yang dikatakan oleh dramawan kita, WS. Rendra:
"Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kebiasaan berkokok atas satu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tidak lagi merdeka tanpa beban sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata."
Oleh Ibnu Mufti

1 Response to "MENULIS DI MEDIA MASSA"
bagus dikit, banyak nggaknya. latihan lagi ya.........
moga sukses & dpat lebih baik dari sekarang
Posting Komentar